Arsitektur Kesultanan Melayu dalam skala waktu

itb_s

Sekolah Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung

Media release

Oleh: Anggita Agustin dan Dasapta Erwin Irawan

Cara mensitasi karya ilmiah ini (How to cite):

Andi, U.F. (2017):  Sejarah perkembangan arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat, Disertasi Program Doktor, Institut Teknologi Bandung.

Andi, U.F. (2017):  The history of Malay Palace architectural development in West Kalimantan Province, Doctoral Dissertation, Institut Teknologi Bandung (in Indonesian with English abstract).

Tanggal 19 Januari 2017 telah dilaksanakan Sidang Promosi S3 Dr. Uray Fery Andi dengan judul disertasi “Sejarah perkembangan arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat”. Tim promotor: Ir. Iwan Sudradjat, MSA, PhD, Dr.Ir. Himasari Hanan, MAE, dan Dr. Bambang Setia Budi, ST., MT. Artikel berikut sekilas menjelaskan riset ini untuk mensosialisasikan hasil riset (media release) tanpa mengurangi makna originalitas riset saat akan dipublikasikan secara formal di media lain. Hasil lengkap riset ini sepenuhnya menjadi milik Dr. Uray Fery Andi dan tim promotor.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan melayangkan surel ke: urayferyandi[at]teknik[dot]untan[dot]ac[dot]id atau urayandi[at]yahoo[dot]com.


“Penelitian sejarah perkembangan arsitektur istana kesultanan Melayu di Kalimantan Barat merupakan sebuah koreksi dari pandangan sebagian orang terhadap istana-istana di Indonesia yang cenderung ‘javacentris’. — Dr. Andi”

Continue reading “Arsitektur Kesultanan Melayu dalam skala waktu”

Advertisements

Mengurai geologi Papua dan kegempaannya

Tanggal 7 Januari 2017 kemarin, telah “dilantik” seorang doktor baru “Astyka Pamumpuni” dari Program Studi Sains Kebumian ITB. Dr. Tiko demikian ia biasa dipanggil mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Neotektonik Papua, Indonesia”. Judul yang singkat untuk obyek penelitian seluas Pulau Papua.

Semua orang tahu bahwa Papua merupakan daerah dengan kondisi geologi yang rumit. Adalah tugas seorang geologiwan untuk dapat mengurai kerumitan itu dengan penjelasan yang mudah dimengerti.

here’s what he has to say…

Continue reading “Mengurai geologi Papua dan kegempaannya”

Blast from the past: mikroskop jadul menjadi digital

Anda mungkin pernah melihat mikroskop ini. Satu-satunya tempat yang paling mungkin adalah di musium. Selain di musium anda juga bisa melihatnya di ITB karena alat optik ini dimiliki oleh Lab. Petrologi (Prodi Geologi ITB) yang diketuai oleh Prof. Emmy Suparka. Sekilas mikroskop yang dibuat pada tahun 1912 an ini nampak seperti Lampu Aladin bukan.

Continue reading “Blast from the past: mikroskop jadul menjadi digital”

Dr. Kustiati Kusno: our interview with one of Indonesia’s bug lady

This post will the third one in new ITB PhDs, the first one was Dr. Dwiharso Nugroho and the second was Dr. Keu Keu Rosada.

Post ini masih dalam rangka event mendunia Celebrating Women in STEM dan Open Access Week 2016 (#OAWeek2016). Untuk dicatat, Bu Kus aktif dalam kegiatan open science. Bersama Bu Keu Keu dan saya, kami mencoba membuat citation style ITB yang akan membantu warga kampus untuk membuat skripsi, tesis, dan disertasi.

So here’s another entomologists in the playground, Dr. Kustiati Kusno from Universitas Tanjungpura.

——–

Assalamu’alaikum wrwb

Bu Kus selamat atas keberhasilan Ibu lulus program doktor, dalam bidang yang unik, Entomology (Baca juga tautan ini dan ini untuk jelasnya).

Membaca ringkasan disertasi Ibu, saya melihat betapa menariknya mempelajari perilaku hewan dalam hal ini serangga. Lalat rumah adalah spesies yang Ibu pilih. Apa sih bu keistimewaan lalat rumah dibanding hama rumah lainnya? Bisa dijelaskan Bu, tapi jangan rumit ya, saya orang geologi :).

Continue reading “Dr. Kustiati Kusno: our interview with one of Indonesia’s bug lady”

Few recent facts on children obesity in Indonesia

Setelah dalam beberapa post sebelumnya “Tim Reporter” mengekspose riset S3 di dalam negeri, khususnya di ITB, kali ini kami akan mengulas sedikit riset tentang kesehatan masyarakat dari luar negeri, University of Sydney tepatnya, dengan tema obesitas. Lebih spesifik lagi adalah obesitas pada anak (children obesity). Penelitian ini dilakukan oleh dr. Cut Novianti Rachmi, MIPH (ORCID, Google Scholar) sejak tahun 2014, di bawah bimbingan: Prof. Louise Baur, Prof. Mu Li, dan Dr. Kingsley Agho. Ketiganya merupakan kombinasi akhir kesehatan masyarakat, kesehatan anak, obesitas, dan biostatistik.
Metode yang digunakan merupakan kombinasi analisis kuantitatif (statistik) terhadap data sekunder yang terbuka Indonesia Family Life Survey yang dirilis oleh RAND Corporation dan pendekatan kualitatif melalui Focus Group Discussions dan in-depth interview.
Setelah hampir tiga tahun berjibaku dengan risetnya, Bu Putri, demikian ia biasa dipanggil telah menghasilkan tiga point penting (yang masih akan terus bertambah) yang menjelaskan kondisi penyakit obesitas di Indonesia.

Bahwa prevalensi (ed: jumlah kalau bahasa umum) penderita “tumbuh pendek” (stunting) dan “berat rendah” (underweight) menurun sejak tahun 1993 ke 2007. Sebaliknya prevalensi resiko penderita berat badan lebih (overweight)/obesitas meningkat. Ini disebut juga double burden of malnutrition. Malnutrisi tidak hanya kekurangan gizi, tapi juga “kelebihan” gizi sehingga menyebabkan obesitas (baca paper 1 untuk lengkapnya). Berikut ini adalah infografis dari WHO tentang double burden of malnutrition.

doubleburdenmalnutrition_infographic_who

Bahwa stunting dan underweight berkaitan dengan lower birth weight (berat lahir rendah), orang tua yang juga menderita stunting dan underweight serta ibu yang tidak mendapatkan pendidikan formal. Lagi-lagi pendidikan menjadi masalah utama.

Stunting juga tinggi jumlahnya di daerah rural. Walaupun dinyatakan demikan, disadari bahwa perkembangan tidak normal ini juga banyak terjadi di wilayah perkotaan (urban).

Berikut ini salah satu tabel hasil penelitian yang ada di dalam paper no 1 di bawah ini.

journal-pone-0154756-t001

Riset ini telah masuk ke tahap kedua yakni pendataan dan analisis secara kualitatif dengan pendekatan focus group discussions dan in-depth invterview dengan beberapa kelompok subyek yang berasal dari kelompok sosioekonomi berbeda di Kota Bandung.

Beberapa hasil yang lainnya dapat dibaca secara langsung dalam tiga publikasi berikut ini dengan paper ke-4 dengan topik literature review sedang bergulir dalam proses submission:

  1. Stunting, Underweight and Overweight in Children Aged 2.0–4.9 Years in Indonesia: Prevalence Trends and Associated Risk Factors, download link.
  2. Stunting coexisting with overweight in 2·0–4·9-year-old Indonesian children: prevalence, trends and associated risk factors from repeated cross-sectional surveys, download link.
  3. Are stunted young Indonesian children more likely to be overweight, thin, or have high blood pressure in adolescence? download link. (email me)

Beberapa liputan online yang telah tayang:

  1. 21 Mei 2015, Medscape Medical News, Double Trouble: Stunted Children at Higher Risk of Obesity.
  2. 12 May 2016, Sydney Uni News, Obesity on the rise in Indonesia: The ‘double burden of malnutrition’.
  3. 25 Mei 2016, Sesat Pikir Soal Obesitas Anak.

Do you know microbes can cause corrosion? Part 2

Our interview with Bu Keu Keu Rosada

Post ini perlu dicatat sebagai yang kedua kali saya lakukan, mungkin juga kedua dalam sejarah ITB, saat seorang doktor yang baru menyelesaikan sidang tertutup dan terbuka diinterview untuk meningkatkan diseminasi riset di ITB khususnya.Siapa yang pertama?

Jangan lupa ada Dr. Dwiharso Nugroho dua bulan yang lalu (interview sedang dalam tahap penyuntingan).

Latar belakang dari kegiatan ini tidak lain adalah penilaian masyarakat yang minor tentang riset perguruan tinggi, katanya “menara gading”, riset tidak menyentuh bumi, dll. Itulah persepsi masyarakat sekarang. Di sisi lain sisi PRship (kehumasan) perguruan tinggi belum sebagus bidang yang sama di industri. Saya akan ulas masalah ini di kesempatan yang lain. Let’s not ruin the celebration.

Remember this post is about celebrating Women in STEM and she is Dr. Keu Keu Rosada.
——–

Assalamu’alaikum wrwb

Bu Keukeu? Sebelumnya selamat atas keberhasilan Ibu lulus program doktor, dalam bahasa lain, Ibu sudah berhasil menjalani lika-liku perjuangan menyelesaikan level pendidikan tertinggi ini.
Sedikit penasaran Bu, latar belakang saya air, jadi akan banyak bersinggungan dengan topik yang ibu dalami, bisakah cerita sedikit pertimbangan memilih bidang ini dulu?

KKR → Terima kasih atas ucapan selamatnya serta perhatiannya terhadap penelitian Saya. Mengapa Saya memilih bidang Ekologi Mikroba Perairan? Sebenarnya, latar belakang pendidikan Saya memang Mikrobiologi, namun lebih ke arah Bioproses. Ketika Saya diterima sebagai staf pengajar di Jurusan Biologi Unpad dan ditempatkan di Ekologi Perairan, Saya menjadi lebih banyak berkecimpung dengan semua hal yang berkaitan dengan Ekologi Perairan baik dalam pengajaran maupun penelitian. Selanjutnya, pada saat Saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan doktor, Saya mencoba untuk lebih mendalami bidang saya sebelumnya yaitu Mikrobiologi dan menghubungkannya dengan bidang dalam pekerjaan saya sekarang sehingga Saya dapat memanfaatkan bidang keahlian saya di tempat yang baru dengan suatu kekhususan yaitu Ekologi Mikroba Perairan. Selama ini, di Indonesia khususnya, Ekologi masih diartikan sebagai bidang dengan lingkup kajian tanaman dan hewan tingkat tinggi. Padahal, mikroba sangat besar perannya dalam bidang Ekologi terutama dalam perannya sebagai dekomposer dan siklus biogeokimia yang utama. Dan saya tertarik untuk mengisi serta mengembangkan sisi bidang kajian Ekologi yang kurang mendapat perhatian tersebut secara lebih komprehensif baik dari segi eksplorasinya maupun aplikasinya.
Dikaitkan dengan kondisi saat ini, apakah ilmu ini termasuk ilmu terapan? Seberapa pentingkah aplikasinya untuk Indonesia?

KKR → Masalah terapan atau bukan itu tergantung dari pandangan seseorang mau sampai mana ilmu tersebut dikaji. Kalau menurut saya semua ilmu hanya akan menjadi sebuah teori apabila hanya ‘disimpan’, sementara ilmu terapan tidak dapat dipisahkan dari ilmu dasar atau konsep teoretisnya.
Apakah bidang ini sudah mendapat perhatian yang cukup dari para pemangku kepentingan?

KKR → Berdasarkan pengalaman saya saat melakukan penelitian yang terkait dengan instansi tertentu, respons yang ada cukup beragam dan sangat bergantung pada individunya. Beberapa ada yang memang concern dan menyatakan sangat senang dan membutuhkan informasi dari hasil berbagai penelitian yang dilakukan di lingkungan instansinya, tetapi ada juga yang biasa-biasa saja tetapi bersikap welcome.
Kembali ke saat mengerjakan riset ibu, apakah peralatan dan fasilitas yang ada di Indonesia atau universitas sudah memadai? Apakah kolaborasi masih diperlukan dalam hal ini?

KKR → Masih dirasa sangat terbatas. Contohnya, ketersediaan alat untuk analisis molekuler yang sangat tidak sebanding dengan jumlah pengguna, tidak adanya akses terhadap fasilitas SEM sehingga peneliti tidak dapat mengeksplor lebih jauh hasil penelitiannya karena harus dilakukan oleh teknisi sendiri dengan gambar yang kita sediakan berdasarkan referensi yang telah ada (padahal mungkin kita dapat menemukan sesuatu yang berbeda atau baru dalam penelitian kita, ataupun sesuatu yang sama namun khas), analisis CLSM yang harus dilakukan di Universitas Brawijaya, keberadaan flow cytometer yang terdapat di instansi tertentu dengan akses yang sangat terbatas. Selain tempat yang jauh, panjangnya antrian juga menjadi kendala sehingga preparasi sampel menjadi sesuatu yang sangat kritis untuk memperoleh data seakurat mungkin. Dengan demikian, analisis yang dilakukan secara in situ menjadi sesuatu yang agak mustahil untuk dilakukan di Indonesia saat ini. Hal ini saya rasakan di universitas besar, dan saya tidak dapat membayangkan bagaimana halnya dengan sarana prasarana di universias lain di daerah. Satu lagi, penyediaan bahan terutama yang harus diimpor dari negara lain juga menjadi kendala ketika harus menunggu hingga berbulan-bulan lamanya terkait dengan administrasi, pengiriman, dan lain sebagainya.

DEI: saat ini setidaknya SEM telah dimiliki oleh FTTM, FITB dan FMIPA ITB. Informasi alat-alat khusus seperti ini juga perlu ditingkatkan karena belum tentu diketahui warga di dalam kampus sendiri.

Menurut Ibu apakah bidang ini sudah mendapat perhatian dari para mahasiswa? Apakah upaya ibu untuk mengundang lebih banyak minat?

KKR → Saat saya mulai penelitian bidang ini di ITB, belum ada mahasiswa melakukan penelitian di bidang yang sama. Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak mahasiswa baik S1 maupun S2 ITB yang tertarik untuk ikut bergabung dengan penelitian saya. Untuk minat mahasiswa di Unpad, saya fikir karena Biologi Unpad arahnya lebih ke lingkungan sepertinya bidang ini juga akan banyak menarik minat mahasiswa di Unpad. Sebetulnya bidang kajian ini tidak terbatas pada bidang Biologi saja melainkan memerlukan keahlian dari bidang yang lain, sehingga diharapkan ke depan dapat menjalin kerjasama lintas bidang, universitas, instansi, bahkan negara sehingga dapat memanfaatkan segala sumber daya yang ada serta hasilnya menjadi lebih komprehensif.

 

Pertanyaan terakhir, dalam kondisi saat ini apakah dunia riset masih menjanjikan? Apakah ibu optimis?

KKR → Saya tetap optimis dunia riset khususnya di Indonesia masih menjanjikan. Hal ini disebabkan oleh sumber daya alam Indonesia yang kaya dan melimpah yang disertai dengan permasalahan yang semakin kompleks namun di sisi lain Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup banyak dengan kualitas yang tidak kalah dibandingkan dengan SDM dari negara lain terutama negara-negara maju. Dalam dunia riset Indonesia, masih banyak PR yang harus dikerjakan baik murni maupun aplikasi. Namun ketika dihadapkan dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai maka diperlukan berbagai inovasi, kreativitas, dan daya fikir yang lebih tinggi untuk dapat mengatasinya tanpa mengurangi kualitas riset itu sendiri. Satu lagi, ketika riset yang dilakukan diniatkan untuk kebaikan, maka insya Allah jalan keluar akan selalu ada selama kita tetap berusaha dan tidak mudah menyerah.

Terimakasih atas kesediaan ibu untuk meluangkan waktu. Semoga ibu selalu sehat dan semangat untuk mengembangkan ilmu ini di Indonesia.


Biografi singkat:

S1, S2, S3 ditempuh di ITB Jurusan Biologi

Bidang kajian Ekologi Mikroba Perairan, biofilm, microbiologically influenced corrosion (MIC)

Foto profil:

screen-shot-2016-10-26-at-3-18-43-pm

Understanding house fly: The woman who learns the resistance of Musca domestica L.

On Monday 10 October 2016, Dr. Kustiati Kusno successfully presented and defended her dissertation about domestic fly. The complete title of her PhD project is “The resistance status and mechanism of house fly (Musca domestica L.) (Diptera: Muscidae) to Permetrin and Imidakloprid in Indonesia“. The supervisors to this PhD project are: Prof. Intan Ahmad, Ph.D as Promotor and Dr.rer.Nat. Marselina Irasonia Tan (as Co-Promotor).

The content of this post is written by Dasapta Erwin Irawan, derived from the Dissertation Summary, and with the approval from Dr. Kustiati Kusno.

Continue reading “Understanding house fly: The woman who learns the resistance of Musca domestica L.”